Selain Jadi Solusi Jeratan Rentenir dan Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi, Koperasi juga Membangkitkan Budaya Menabung

Bogor,kabarpokja.com

Keberadaan koperasi yang sekarang sudah mulai ditinggal karena sudah jarang yang tertarik, justru dapat memberikan solusi terhadap permasalahan ekonomi di era pandemi. Terutama permasalahan jeratan rentenir yang marak di tengah masyarakat.

Hal ini ditegaskan Bupati Bogor, Ade Yasin saat menghadiri silaturahmi pengurus Koperasi Karya Mandiri di Kantor KSU Karya Mandiri, Kemang, Ahad (4/4).

“Padahal di tengah pandemi, disadari ataupun tidak jika koperasi diberdayakan secara konsisten, koperasi bisa menjadi angin segar dan solusi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Kemudian sebagai solusi dari pada ibu-ibu minjam-minjam ke rentenir. Solusi yang aman, lebih baik, ada kebersamaan dan gotong royong,” ujar Ade Yasin.

Ade menjelaskan, kalau pinjam uang ke rentenir, rentenir sih dengan senang hati, mereka pasti mencari-cari korban, tetapi dampaknya berhutang 500 ribu, harus bayar hariannya besar, membengkak sampai 5 juta karena tak sanggup bayar akhirnya diteror, inilah jahatnya jeratan rentenir.

“Justru dengan koperasi ini lebih mudah, birokrasi nya tidak berbelit-belit, pinjaman tidak harus pakai agunan. Kita juga jadi anggota dan dapat menyimpan uang dengan aman, apalagi KSU Karya Mandiri ini sudah 27 tahun beroperasi, Insyaallah sudah sangat terpercaya,” terangnya.

Selanjutnya Ketua KSU Karya Mandiri Atty Somaddikarya memaparkan, keberadaan Koperasi KSU Karya Mandiri ini memang sudah sukses di wilayah Kota Bogor tetapi ada sedikit kesulitan di Kabupaten Bogor karena budaya menabungnya belum bisa menjadi gerakan masyarakat yang bisa melawan pinjaman rentenir.

“Saya sangat peduli di Kabupaten Bogor banyak sekali kaum perempuan yang memang terlibat hutang secara instan, maka kami terus berupaya untuk membantu, saat ini baru ada 7 ribu anggota, tahun 2024 di Kabupaten Bogor mudah-mudahan bisa mencapai 15 ribu anggota”, paparnya.

Atty menjelaskan, yang hadir pada silaturahmi ini adalah para pengurus, satu pengurus itu basisnya adalah RT/RW. Satu RW ini bisa memiliki anggota 100 – 250 orang. Jadi setiap hari kerjanya door to door untuk menggerakan budaya menabung tapi hanya seribu rupiah. Nanti tabungan ini bisa dibelikan sembako pada saat lebaran, dibelikan daging.

“Jika gerakan ini terus bertumbuh dan dilakukan secara door to door, Insyaallah kebiasaan pinjam ke rentenir akan bergeser, karena mereka beralih memilih budaya menabung. Alhamdulillah, 27 tahun kami berdiri, tidak ada satupun anggota kami yang dirugikan oleh koperasi,” kata Atty (dauri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *